Dunia seni kontemporer India tengah menyorot satu momen yang terasa personal sekaligus politis: pameran solo Jagannath Panda di Bhubaneswar, kota yang bukan sekadar lokasi pameran, tetapi bagian penting dari perjalanan hidup dan kesadarannya sebagai seniman. Bertajuk The Long Now of Us, pameran ini digelar di Lalit Kala Akademi Regional Centre dan menjadi titik refleksi atas lebih dari tiga dekade praktik artistik Panda.
Di tengah lanskap seni global yang serba cepat dan cenderung terpusat di kota-kota besar seperti Delhi, Mumbai, atau London, keputusan Panda untuk kembali berpameran di Bhubaneswar terasa signifikan. Ini bukan nostalgia kosong. Ini adalah pernyataan tentang pentingnya akar, tentang bagaimana memori lokal, lingkungan, dan sejarah personal bisa berbicara dalam bahasa seni kontemporer global.
Pulang Bukan Sekadar Kembali, tapi Membaca Ulang Diri
Bagi Jagannath Panda, Bhubaneswar bukan hanya kampung halaman. Kota ini adalah ruang pembentuk kesadaran awalnya tentang alam, ritual, dan relasi manusia dengan lingkungan. Pameran ini lahir dari keinginan untuk melihat ulang pengalaman hidup tersebut dengan jarak waktu dan kedewasaan artistik.
Selama bertahun-tahun, Panda dikenal lewat karya-karya kolase dan instalasi berskala besar yang menggabungkan elemen alam, simbol mitologis, dan bahasa visual kontemporer. Namun di Bhubaneswar, pendekatan itu terasa lebih intim. Banyak karya yang tidak sekadar memamerkan kompleksitas visual, tetapi juga mengundang penonton untuk masuk ke dalam ritme waktu yang lebih lambat.
Judul The Long Now of Us sendiri mengisyaratkan gagasan tentang waktu yang tidak linier. Masa lalu, masa kini, dan masa depan tidak berdiri terpisah, melainkan saling tumpang tindih dalam ingatan kolektif dan pengalaman personal.
Bahasa Visual yang Lahir dari Alam dan Ingatan
Salah satu ciri paling kuat dalam karya Jagannath Panda adalah relasinya dengan alam. Dalam pameran ini, unsur-unsur seperti daun, ranting, bentuk organik, dan tekstur alami hadir berdampingan dengan material buatan manusia. Kolase menjadi medium utama, seolah mencerminkan bagaimana realitas itu sendiri terbentuk dari lapisan-lapisan pengalaman.
Namun alam dalam karya Panda bukan representasi romantis. Ia hadir sebagai ruang yang rapuh, terancam, dan terus dinegosiasikan oleh aktivitas manusia. Banyak karya memunculkan ketegangan antara pertumbuhan dan kehancuran, antara spiritualitas dan eksploitasi.
Dalam konteks Bhubaneswar dan Odisha yang kaya akan tradisi dan lanskap alam, karya-karya ini terasa semakin relevan. Panda tidak menggurui, tetapi membiarkan visual berbicara, mengundang penonton untuk merenung tentang hubungan mereka sendiri dengan lingkungan sekitar.
Pameran sebagai Ruang Meditasi Sosial
Berbeda dari pameran yang menuntut perhatian cepat dan konsumsi visual instan, The Long Now of Us justru mengajak penonton untuk melambat. Tata ruang pameran dirancang agar pengunjung bisa bergerak perlahan, memberi waktu bagi setiap karya untuk “bernapas”.
Beberapa instalasi terasa seperti ruang meditasi. Tidak ada narasi tunggal yang dipaksakan. Pengalaman setiap orang bisa berbeda, tergantung latar belakang, ingatan, dan sensitivitas masing-masing. Pendekatan ini sejalan dengan cara Panda memahami seni sebagai ruang dialog, bukan monolog.
Dalam gaya jurnalisme Gen Z, pengalaman ini terasa kontras dengan budaya scroll tanpa henti. Pameran ini seolah berkata: berhenti sebentar, lihat lebih dalam, dengarkan apa yang tidak selalu terdengar.
Dimensi Ekologi dan Politik yang Sunyi tapi Tegas
Meski pameran ini terasa personal, ia tidak lepas dari isu-isu besar seperti krisis ekologi dan perubahan sosial. Jagannath Panda dikenal sebagai seniman yang konsisten mengangkat relasi manusia dengan alam dalam konteks globalisasi dan industrialisasi.
Di Bhubaneswar, isu ini hadir dengan pendekatan yang lebih sunyi. Tidak ada slogan besar atau visual provokatif yang agresif. Sebaliknya, Panda menghadirkan fragmen-fragmen yang mengajak penonton menyadari perlahan: tentang hutan yang menyusut, ritual yang memudar, dan keseimbangan yang terganggu.
Pendekatan ini membuat pesan ekologis terasa lebih dalam. Ia tidak menakut-nakuti, tetapi mengingatkan. Tidak menghakimi, tetapi mempertanyakan.
Bhubaneswar sebagai Ruang Seni Kontemporer
Pameran ini juga penting dalam konteks geografis. Bhubaneswar jarang masuk peta utama seni kontemporer India. Dengan membawa pameran berskala besar ke kota ini, Panda secara tidak langsung membuka percakapan tentang desentralisasi seni.
Bagi publik lokal, pameran ini menjadi kesempatan langka untuk berinteraksi langsung dengan praktik seni kontemporer internasional tanpa harus pergi ke kota besar. Bagi seniman muda Odisha, ini adalah momen inspiratif yang menunjukkan bahwa karya dengan akar lokal bisa berbicara secara global.
Respons Publik dan Energi Lokal
Sejak dibuka, pameran ini mendapat respons hangat dari berbagai kalangan. Mahasiswa seni, akademisi, hingga warga umum datang dengan rasa ingin tahu. Diskusi spontan sering terjadi di ruang pamer, menunjukkan bahwa karya-karya Panda berhasil memicu percakapan, bukan sekadar kekaguman visual.
Banyak pengunjung mengaku merasa “dekat” dengan karya-karya tersebut, meski tidak selalu bisa menjelaskannya secara teoretis. Kedekatan emosional ini menjadi indikator penting keberhasilan pameran, terutama di luar lingkaran seni profesional.
Jagannath Panda dan Perjalanan Tiga Dekade
Melihat pameran ini juga berarti melihat perjalanan panjang Jagannath Panda sebagai seniman. Dari fase awal yang lebih eksperimental hingga karya-karya matang yang reflektif, semuanya terasa terhubung oleh benang merah: pencarian makna di antara alam, manusia, dan waktu.
Pameran di Bhubaneswar bukan retrospektif formal, tetapi refleksi. Ia tidak mencoba merangkum segalanya, melainkan memilih momen-momen yang relevan dengan konteks hari ini. Pendekatan ini membuat pameran terasa hidup, bukan arsip.
Relevansi bagi Generasi Muda
Bagi generasi muda, terutama Gen Z, pameran ini menawarkan perspektif alternatif tentang seni dan keberhasilan. Di tengah tekanan untuk cepat viral dan diakui, perjalanan Panda menunjukkan bahwa konsistensi, kedalaman, dan keterhubungan dengan akar personal tetap memiliki tempat.
The Long Now of Us juga mengingatkan bahwa isu besar seperti krisis iklim dan kehilangan identitas budaya tidak selalu harus disuarakan dengan teriakan. Kadang, bisikan yang jujur justru lebih bertahan lama.
Seni sebagai Proses, Bukan Produk Instan
Salah satu pesan tersirat dari pameran ini adalah pentingnya melihat seni sebagai proses. Karya-karya Panda tidak lahir dari momen singkat, tetapi dari akumulasi pengalaman, pengamatan, dan refleksi panjang.
Dalam dunia yang semakin terobsesi dengan hasil cepat, pendekatan ini terasa hampir radikal. Ia mengajak kita menghargai waktu, baik dalam berkarya maupun dalam menikmati karya.
Kesimpulan: Pameran yang Mengajak Pulang dan Melihat Lagi
Pameran solo Jagannath Panda di Bhubaneswar bukan hanya peristiwa seni, tetapi peristiwa kultural. Ia menghubungkan masa lalu dan masa kini, lokal dan global, personal dan kolektif.
Melalui The Long Now of Us, Panda mengajak kita untuk pulang. Bukan selalu ke tempat fisik, tetapi ke kesadaran tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana kita berelasi dengan dunia di sekitar. Di tengah dunia yang bergerak cepat, pameran ini menjadi pengingat bahwa ada nilai dalam melambat, melihat ulang, dan mendengarkan apa yang sering terlewat.
Bagi siapa pun yang mencari seni yang tidak hanya indah, tetapi juga bermakna dan relevan, pameran ini menjadi salah satu sorotan penting dalam lanskap seni kontemporer hari ini.



Tinggalkan Balasan