Retrospektif Seni Theresa Hak Kyung Cha di Berkeley

Retrospektif Seni Theresa Hak Kyung Cha di Berkeley

Written by:

Sebuah retrospektif besar yang digelar di Berkeley Art Museum and Pacific Film Archive kembali menghidupkan diskusi tentang salah satu figur paling berpengaruh sekaligus paling sulit diklasifikasikan dalam seni kontemporer abad ke-20: Theresa Hak Kyung Cha. Pameran ini bukan sekadar penghormatan terhadap perjalanan artistik Cha, tetapi juga sebuah undangan untuk membaca ulang bagaimana seni dapat menjadi ruang perlawanan, penyembuhan, dan pencarian identitas.

Bagi banyak pengunjung, nama Theresa Hak Kyung Cha mungkin lebih dikenal lewat karya legendarisnya Dictee. Namun retrospektif di Berkeley ini memperlihatkan bahwa Cha jauh melampaui satu buku atau satu medium. Ia adalah seniman lintas disiplin yang bekerja dengan film, video, performans, teks, suara, dan instalasi—semuanya disatukan oleh kegelisahan yang sama: bagaimana bahasa membentuk, sekaligus melukai, identitas manusia.


Berkeley sebagai Ruang Kontekstual yang Tepat

Bahwa retrospektif ini digelar di Berkeley terasa sangat relevan. Kota ini memiliki sejarah panjang sebagai ruang perlawanan intelektual, aktivisme, dan pemikiran kritis. Dalam konteks tersebut, karya Cha terasa menemukan rumah yang tepat. Seni Cha bukan seni yang nyaman. Ia menuntut perhatian, kesabaran, dan kesediaan untuk merasa tidak stabil.

Berkeley menjadi ruang di mana pertanyaan-pertanyaan Cha tentang kolonialisme, migrasi, bahasa ibu, dan trauma sejarah dapat dibaca secara lebih kontekstual. Pameran ini tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang kondisi dunia hari ini yang masih dipenuhi persoalan identitas dan kekuasaan.


Siapa Theresa Hak Kyung Cha?

Theresa Hak Kyung Cha lahir di Korea dan kemudian bermigrasi ke Amerika Serikat. Pengalaman diaspora ini menjadi fondasi penting dalam seluruh praktik seninya. Cha hidup di antara bahasa, budaya, dan sejarah yang saling bertabrakan. Kondisi in-between inilah yang kemudian menjadi energi utama karyanya.

Sebagai seniman perempuan Asia-Amerika pada masanya, Cha sering berada di luar kanon seni arus utama. Namun justru dari posisi pinggir inilah ia membangun bahasa artistik yang radikal. Ia menolak kategori tunggal. Karyanya tidak bisa sepenuhnya disebut sastra, film, atau seni visual. Ia berada di antaranya, dan di situlah kekuatannya.


Retrospektif sebagai Upaya Membaca Ulang

Retrospektif di Berkeley ini dirancang bukan sebagai kronologi kaku, melainkan sebagai peta ide. Karya-karya Cha disusun untuk menyoroti tema-tema utama yang terus muncul dalam praktiknya: bahasa sebagai alat kekuasaan, tubuh sebagai arsip sejarah, dan ingatan sebagai ruang politik.

Pendekatan ini membuat pameran terasa hidup. Pengunjung tidak dipaksa mengikuti garis waktu, tetapi diajak menyusuri jaringan gagasan. Setiap ruang pamer menghadirkan atmosfer berbeda, mencerminkan fragmentasi yang juga menjadi ciri khas karya Cha.


Bahasa sebagai Medan Pertarungan

Salah satu aspek paling kuat dari karya Theresa Hak Kyung Cha adalah obsesinya terhadap bahasa. Namun bahasa di sini tidak hadir sebagai alat komunikasi yang netral. Ia adalah medan pertarungan. Cha memperlihatkan bagaimana bahasa kolonial dapat memutus hubungan seseorang dengan identitasnya sendiri.

Dalam karya-karyanya, teks sering muncul terputus, terulang, atau bercampur dengan bahasa lain. Ini bukan kebetulan. Cha sengaja menciptakan ketidaknyamanan, memaksa penonton merasakan kebingungan yang sering dialami oleh individu diaspora. Bahasa tidak lagi memberi kepastian, tetapi membuka luka.


Film dan Video sebagai Ruang Meditasi

Retrospektif ini juga menampilkan sejumlah karya film dan video Cha yang jarang dipertontonkan secara luas. Film-film ini sering kali sunyi, lambat, dan minim narasi konvensional. Gerak menjadi terbatas, gambar terasa repetitif, dan waktu seolah melambat.

Pendekatan ini membuat film Cha lebih dekat pada meditasi daripada tontonan. Penonton diajak masuk ke ritme yang berbeda, ritme yang memungkinkan refleksi. Dalam dunia visual yang serba cepat hari ini, karya-karya ini terasa semakin relevan dan bahkan radikal.


Tubuh Perempuan dan Sejarah

Tubuh perempuan dalam karya Cha tidak pernah hadir sebagai objek estetis. Ia hadir sebagai medan sejarah. Melalui performans dan dokumentasi visual, Cha memperlihatkan bagaimana tubuh menyimpan ingatan tentang kekerasan, migrasi, dan kehilangan.

Retrospektif ini menyoroti bagaimana Cha menghubungkan pengalaman personal dengan sejarah kolektif, terutama sejarah Korea yang penuh trauma kolonial dan perang. Tubuh menjadi saksi bisu, tetapi juga medium perlawanan.


Dictee dan Pengaruhnya yang Terus Hidup

Meski retrospektif ini tidak berpusat hanya pada Dictee, bayang-bayang karya tersebut tetap terasa kuat. Buku ini telah menjadi teks penting dalam studi sastra, feminisme, dan seni kontemporer. Namun pameran ini membantu memperluas pemahaman bahwa Dictee hanyalah satu simpul dalam jaringan karya Cha yang jauh lebih luas.

Melihat karya visual Cha berdampingan dengan gagasan-gagasan dalam Dictee membuka perspektif baru tentang konsistensi visinya. Cha selalu tertarik pada fragmentasi, pengulangan, dan kegagalan bahasa untuk sepenuhnya mewakili pengalaman manusia.


Kurasi yang Menghargai Keheningan

Salah satu kekuatan utama retrospektif ini terletak pada kurasinya. Ruang pamer tidak dipenuhi teks penjelasan yang berlebihan. Keheningan justru diberi tempat. Ini adalah keputusan kuratorial yang tepat, mengingat karya Cha sendiri sering bekerja lewat absensi dan jeda.

Pengunjung diberi ruang untuk mengalami karya secara personal. Tidak ada satu tafsir tunggal yang dipaksakan. Ini sejalan dengan semangat Cha yang selalu menolak simplifikasi.


Relevansi bagi Generasi Sekarang

Menariknya, retrospektif ini mendapatkan respons kuat dari generasi muda. Banyak pengunjung melihat karya Cha sebagai cermin kondisi kontemporer: krisis identitas, migrasi global, dan kegagalan bahasa dalam menjembatani perbedaan.

Dalam era media sosial yang serba lantang, karya Cha justru menawarkan kekuatan keheningan. Ia mengingatkan bahwa tidak semua pengalaman bisa atau perlu diterjemahkan secara utuh. Ada hal-hal yang hanya bisa dirasakan.


Seni sebagai Arsip Alternatif

Retrospektif ini juga menegaskan peran seni sebagai arsip alternatif sejarah. Cha tidak menulis sejarah resmi. Ia mengumpulkan fragmen, suara, dan citra yang sering diabaikan. Dari situlah ia membangun narasi tandingan.

Pendekatan ini sangat relevan di tengah perdebatan global tentang siapa yang berhak menulis sejarah. Karya Cha menunjukkan bahwa seni dapat menjadi ruang di mana suara yang terpinggirkan menemukan bentuknya.


Posisi Cha dalam Kanon Seni Kontemporer

Pameran ini secara tidak langsung juga mengoreksi sejarah seni. Selama bertahun-tahun, Theresa Hak Kyung Cha sering ditempatkan di pinggiran diskursus utama. Retrospektif di Berkeley ini menegaskan bahwa posisinya layak berada di pusat percakapan seni kontemporer global.

Ia bukan sekadar “seniman minoritas”, tetapi pemikir visual dengan pengaruh lintas disiplin. Banyak praktik seni konseptual hari ini, terutama yang melibatkan teks dan identitas, berutang pada eksperimen Cha.


Penutup: Seni yang Tidak Pernah Selesai Dibaca

Retrospektif seni Theresa Hak Kyung Cha di Berkeley membuktikan bahwa karya besar tidak pernah selesai dibaca. Setiap generasi akan menemukan resonansi baru. Di tengah dunia yang terus berubah, pertanyaan-pertanyaan Cha tentang bahasa, identitas, dan ingatan tetap menggema.

Pameran ini bukan hanya tentang melihat kembali karya seorang seniman, tetapi tentang membuka ruang refleksi kolektif. Tentang bagaimana kita berbicara, mengingat, dan memahami diri kita sendiri. Dalam keheningan dan fragmentasi karyanya, Theresa Hak Kyung Cha masih berbicara dengan suara yang sangat relevan hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link