Dunia seni internasional kembali menyorot satu nama yang mungkin belum terlalu familiar di telinga publik arus utama, tetapi punya gaung kuat di kalangan kurator dan seniman kritis: Antonio Paucar. Seniman asal Andes, Peru, ini resmi memenangkan Artes Mundi Prize 2026, salah satu penghargaan seni paling bergengsi di Eropa yang berbasis di Wales, Inggris.
Kemenangan ini bukan sekadar soal trofi atau hadiah uang. Ia adalah pengakuan global terhadap praktik seni yang berakar kuat pada tanah, budaya lokal, dan relasi manusia dengan alam—isu yang semakin relevan di tengah krisis iklim, ketimpangan global, dan pencarian ulang identitas pascakolonial.
Antonio Paucar datang bukan dari pusat seni dunia seperti New York, London, atau Berlin. Ia datang dari pegunungan Andes, membawa cerita tentang lebah, tanah, tradisi, dan perlawanan yang sunyi namun konsisten.
Apa Itu Artes Mundi dan Mengapa Penting
Bagi banyak orang, nama Artes Mundi mungkin tidak sepopuler Turner Prize. Namun dalam ekosistem seni kontemporer, Artes Mundi punya posisi unik. Penghargaan ini dikenal karena fokusnya pada seniman yang karyanya menyentuh isu kemanusiaan, sosial, dan politik global.
Berbasis di Cardiff, Wales, Artes Mundi tidak hanya menilai estetika atau inovasi formal. Ia menilai dampak gagasan. Bagaimana seni bisa berbicara tentang dunia nyata, tentang relasi kuasa, tentang ketimpangan, dan tentang kemungkinan masa depan.
Memenangkan Artes Mundi berarti karya seorang seniman dianggap punya relevansi lintas budaya dan lintas benua. Dalam konteks ini, kemenangan Antonio Paucar menjadi sinyal kuat bahwa suara dari Global South semakin mendapat tempat yang setara di panggung seni internasional.
Antonio Paucar: Seniman, Peternak Lebah, dan Penjaga Pengetahuan Lokal
Antonio Paucar bukan tipikal seniman galeri. Selain berkarya, ia juga dikenal sebagai peternak lebah di wilayah Andes. Fakta ini bukan detail kecil atau sekadar trivia menarik. Justru di sanalah inti praktik seninya berada.
Bagi Paucar, lebah bukan hanya objek biologis, tetapi simbol ekosistem, kerja kolektif, dan hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Dalam banyak karyanya, lebah dan madu menjadi medium, metafora, sekaligus narasi.
Ia bekerja dengan komunitas lokal, pengetahuan tradisional, dan material alami. Seni baginya bukan aktivitas terpisah dari kehidupan sehari-hari, melainkan bagian dari praktik hidup itu sendiri.
Pendekatan ini membuat karya Paucar sulit dikotakkan sebagai seni murni, seni lingkungan, atau seni politik. Ia berada di persimpangan semuanya.
Karya yang Membawa Andes ke Wales
Dalam rangka Artes Mundi 2026, karya Antonio Paucar dipamerkan di beberapa lokasi di Wales. Ini bukan pameran tunggal di satu museum steril, melainkan rangkaian presentasi yang menyebar, menciptakan dialog antara konteks Andes dan lanskap Wales.
Karya-karyanya mencakup instalasi, objek berbasis material alami, dokumentasi proses komunitas, hingga elemen performatif. Ada madu, sarang lebah, tanah, suara alam, dan narasi visual yang terasa organik, bukan dibuat-buat.
Yang membuatnya kuat adalah kejujuran pendekatan. Paucar tidak “menjelaskan” Andes kepada penonton Eropa secara eksotis. Ia justru mengundang penonton untuk masuk ke dalam sistem relasi yang ia bangun: relasi manusia-alam, lokal-global, tradisi-modernitas.
Seni yang Tidak Berteriak, Tapi Mengakar
Di era seni kontemporer yang sering dipenuhi instalasi spektakuler dan visual bombastis, karya Antonio Paucar justru terasa tenang. Tidak ada sensasi berlebihan. Tidak ada gimmick.
Namun justru di situlah kekuatannya. Karyanya bekerja perlahan, mengendap, dan memaksa penonton untuk menyesuaikan ritme. Ini bukan seni yang bisa dinikmati sambil lalu. Ia menuntut kehadiran penuh.
Pendekatan ini sejalan dengan nilai-nilai Andes yang menghargai keseimbangan, waktu, dan hubungan timbal balik. Seni Paucar tidak memposisikan manusia sebagai pusat segalanya, melainkan sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang lebih luas.
Politik Identitas Tanpa Retorika Kosong
Banyak seniman dari wilayah adat atau Global South sering terjebak dalam ekspektasi tertentu: harus politis, harus representatif, harus bicara kolonialisme secara eksplisit. Antonio Paucar memilih jalan yang lebih subtil.
Ia tidak mengangkat bendera perlawanan dengan slogan besar. Ia bekerja lewat praktik sehari-hari, lewat material, lewat relasi. Namun justru di sanalah politiknya bekerja.
Karyanya berbicara tentang hak atas tanah, tentang pengetahuan lokal yang terpinggirkan, tentang sistem ekonomi global yang merusak ekosistem. Semua itu hadir tanpa khotbah.
Dalam konteks seni global, pendekatan ini terasa dewasa dan relevan. Ia menunjukkan bahwa politik dalam seni tidak selalu harus keras untuk menjadi efektif.
Mengapa Dewan Juri Memilih Antonio Paucar
Kemenangan Antonio Paucar di Artes Mundi 2026 bukan keputusan yang berdiri sendiri. Dewan juri menilai keseluruhan praktiknya: konsistensi, kedalaman riset, keterlibatan komunitas, dan dampak jangka panjang.
Paucar tidak membuat karya untuk pameran lalu pergi. Banyak proyeknya berkelanjutan, tumbuh bersama komunitas, dan meninggalkan jejak nyata di luar ruang galeri.
Ini selaras dengan visi Artes Mundi yang ingin melihat seni sebagai agen perubahan, bukan sekadar komoditas.
Relevansi Kuat di Era Krisis Iklim
Tidak bisa dipungkiri, kemenangan Paucar juga sangat kontekstual dengan isu global saat ini. Krisis iklim, kerusakan ekosistem, dan runtuhnya keanekaragaman hayati menjadi tema besar dunia.
Lebah, yang menjadi elemen penting dalam karya Paucar, adalah simbol krisis tersebut. Hilangnya lebah berarti runtuhnya sistem pangan dan keseimbangan alam.
Dengan menjadikan lebah sebagai pusat praktik seni, Paucar tidak hanya bicara tentang Andes, tetapi tentang masa depan umat manusia secara global.
Seni Global yang Tidak Lagi Satu Arah
Kemenangan ini juga menandai pergeseran penting dalam dunia seni global. Selama bertahun-tahun, narasi seni sering bergerak satu arah: dari pusat ke pinggiran.
Kini, arah itu semakin kabur. Seniman seperti Antonio Paucar menunjukkan bahwa gagasan besar bisa datang dari mana saja, dan bahwa pusat seni global sedang dipaksa untuk mendengarkan.
Artes Mundi 2026, dengan memilih Paucar, memperkuat narasi bahwa seni global hari ini harus bersifat multipusat, beragam, dan terbuka terhadap pengetahuan non-Barat.
Dampak bagi Seniman Global South
Bagi banyak seniman dari Amerika Latin, Asia, dan Afrika, kemenangan Paucar menjadi simbol harapan. Ia membuktikan bahwa tidak perlu meninggalkan akar budaya untuk diakui secara global.
Justru sebaliknya, semakin kuat akar lokal seseorang, semakin besar potensi resonansinya di tingkat internasional—jika disampaikan dengan jujur dan konsisten.
Ini pesan penting bagi generasi muda seniman yang sering merasa harus menyesuaikan diri dengan selera pasar global.
Resonansi dengan Generasi Gen Z
Bagi Gen Z, sosok Antonio Paucar terasa sangat relevan. Ia menggabungkan seni, aktivisme lingkungan, komunitas, dan gaya hidup berkelanjutan—hal-hal yang menjadi perhatian utama generasi ini.
Gen Z cenderung skeptis terhadap institusi besar dan simbol kosong. Mereka mencari praktik nyata, dampak konkret, dan keaslian. Semua itu ada dalam karya Paucar.
Kemenangannya di Artes Mundi 2026 menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut bukan sekadar tren, tetapi sudah menjadi arus utama baru dalam seni global.
Seni sebagai Cara Hidup
Mungkin pelajaran terbesar dari Antonio Paucar adalah cara ia memandang seni. Baginya, seni bukan produk akhir, tetapi cara hidup.
Ia berkarya sambil merawat lebah, bekerja dengan komunitas, dan menjaga hubungan dengan alam. Tidak ada batas tegas antara studio, ladang, dan ruang pamer.
Pendekatan ini menantang cara lama memandang seniman sebagai individu terpisah dari dunia. Paucar menunjukkan bahwa seni bisa tumbuh dari keterikatan, bukan keterpisahan.
Penutup: Kemenangan yang Lebih Besar dari Penghargaan
Antonio Paucar memenangkan Artes Mundi 2026, tetapi makna kemenangannya jauh melampaui satu penghargaan. Ia memenangkan ruang bicara bagi praktik seni yang berakar, lambat, dan berkelanjutan.
Di tengah dunia seni yang sering terjebak pada kecepatan, pasar, dan sensasi, Paucar mengingatkan bahwa seni juga bisa menjadi tindakan merawat—merawat alam, merawat komunitas, dan merawat ingatan.
Dan mungkin, di situlah masa depan seni global sedang diarahkan.



Tinggalkan Balasan