Pameran “Ilia Mudiak” di Galeri Universitas Negeri Padang

Pameran “Ilia Mudiak” di Galeri Universitas Negeri Padang

Written by:

Pada pertengahan Desember 2025, suasana Galeri Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP) berubah menjadi ruang kritis dan kreatif. Puluhan karya yang lahir dari gagasan akademik, tradisi visual, hingga refleksi sosial berkumpul dalam sebuah pameran bertajuk “Ilia Mudiak”, menandai pertemuan gagasan lintas generasi antara mahasiswa, alumni, dan dosen seni rupa. Pameran yang berlangsung dari 17 hingga 20 Desember 2025 ini bukan sekadar pameran kampus biasa — ia adalah ruang dialog yang mengeksplorasi hubungan antara hulu dan hilir dalam praktik seni rupa kontemporer di Sumatera Barat dan Indonesia. Berita Minang


Menangkap Arus Balik Gagasan Seni

Istilah ilia mudiak sendiri tidak terlepas dari konteks lokal dan pemaknaan filosofis yang lebih luas. Dalam bahasa Minang, konsep itu dapat dibaca sebagai “gerak balik”, sebuah respon terhadap gagasan hulu — titik awal atau asal–asal pemaknaan — seperti yang diperkenalkan oleh pameran ‘Hulu’ yang sebelumnya digelar oleh UPTD Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat. Jika Hulu membuka ruang untuk mengidentifikasi asal-usul ekspresi visual, Ilia Mudiak berupaya mengekspresikan gerak kembali itu—sebuah proses negosiasi yang terus menerus antara tradisi, pendidikan, dan konteks kontemporer. Berita Minang


Ruang Akademik sebagai Arena Seni

Lingkungan akademik sering dipandang sebagai ruangan tertutup yang jauh dari dinamika seni publik. Namun, lewat “Ilia Mudiak,” Universitas Negeri Padang justru membuktikan sebaliknya. Ruang kelas, studio, hingga galeri kampus menjadi arena negosiasi ide yang sama pentingnya dengan ruang pamer di museum atau galeri kota besar. Ini sesuai dengan pernyataan Ketua Pelaksana Pameran, Salim Anshori, bahwa pameran ini bukan sekadar ajang menampilkan karya, tetapi tempat berdialog, bertukar pengalaman, serta bereksperimen secara kritis antar generasi. ValoraNews.com

Dengan melibatkan dosen, mahasiswa, dan alumni dalam satu ruang pamer yang sama, Ilia Mudiak mencerminkan bagaimana hubungan antara praktik akademik dan realitas artistik luas bisa saling memperkaya. Ini bukan hubungan hierarkis antara “guru” dan “murid”, tetapi kolaboratif — menunjukkan bahwa seni di lingkungan akademik bisa menjadi bagian aktif dari lanskap budaya yang lebih besar. Kata Sumbar


Dialog Hulu–Hilir: Gagasan, Teknik, dan Pemaknaan

Pameran ini secara konseptual dirancang sebagai “arus balik” terhadap pameran Hulu. Namun apa sebenarnya yang dimaksud dengan dialog antara hulu dan hilir dalam seni rupa? Dalam konteks pameran ini, “hulu” dapat dipahami sebagai asal–usul gagasan dan tradisi visual, sedangkan “hilir” adalah hasil konkret dari proses berpikir, praktik, dan pemaknaan yang terus berkembang.

Karya–karya yang ditampilkan di Ilia Mudiak menunjukkan bahwa hubungan ini bukan linier. Seorang mahasiswa dapat memulai dari tradisi akademik (hulu) tetapi kemudian melompat ke pendekatan eksperimental (hilir) yang justru membentuk kerangka nyelemat baru dalam bahasa visualnya. Sebaliknya, alumni atau dosen yang sudah matang secara artistik dapat menemukan kembali sumber inspirasi awalnya dalam dialog dengan karya mahasiswa, menciptakan sirkulasi pemaknaan yang dinamis. Berita Minang

Ferdian Ondira Asa, S.Pd., M.Sn., Pembina Pameran, menegaskan bahwa pameran ini menunjukkan kesinambungan antara pemaknaan asal-asal (hulu) dan gerak balik (ilia mudiak) dalam pembentukan pengetahuan seni rupa di lingkungan kampus. Menurutnya, kreativitas akademik bukan proses yang berhenti di satu titik, tetapi terus bernegosiasi dengan tradisi dan realitas zaman. Rakyat TerkinI


Menggagas Ruang Eksperimen Lintas Generasi

Sebanyak 42 seniman berpartisipasi dalam pameran ini, didukung oleh 48 panitia yang juga berasal dari lingkungan Departemen Seni Rupa UNP — sebuah jumlah yang signifikan untuk pameran kampus tingkat regional. Karya–karya mereka tidak homogen; mereka merepresentasikan beragam pendekatan artistik dan pemikiran konseptual, dari representasi tradisional hingga praktik konseptual yang merespons isu sosial kontemporer. ValoraNews.com

Perbedaan pendekatan ini terlihat jelas dalam ragam medium yang digunakan — dari lukisan, instalasi, fotografi, hingga media eksperimen yang menantang batasan estetika konvensional. Beberapa karya tampak melakukan kajian reflektif terhadap tradisi visual Minangkabau atau Sumatera Barat, sementara yang lain mengalihkan perhatian pada realitas kota, identitas individu, atau narasi sosial yang lebih luas.

Interaksi antara mahasiswa, alumni, dan dosen dalam satu ruang pamer ini mempertegas bahwa seni rupa akademik bukanlah ruang terisolasi. Sebaliknya, ia adalah ruang di mana tradisi, pengetahuan formal, kebudayaan lokal, dan refleksi personal saling berkelindan menjadi wacana yang hidup. Rakyat TerkinI


Akademik dan Kekinian: Menyambung Tradisi dengan Realitas Global

Satu hal yang membuat pameran ini menarik adalah bagaimana karya–karya kontemporer dalam Ilia Mudiak tidak kehilangan kesadaran historisnya, sambil tetap membuka ruang bagi konteks kekinian. Dalam pameran ini, tradisi visual tidak dimuliakan secara romantis, tetapi dipertanyakan, dikritisi, dan dikolaborasikan dengan gagasan baru.

Pendekatan ini sejalan dengan perkembangan seni rupa kontemporer global, di mana tradisi lokal sering dijadikan bahan perdebatan estetika, bukan sekadar nostalgia. Karya–karya dalam Ilia Mudiak menunjukkan bahwa pengetahuan seni rupa yang berasal dari lingkungan akademik tidak hanya relevan secara lokal, tetapi juga membuka kemungkinan sambungan dengan percakapan estetika yang lebih luas. Rakyat TerkinI

Beberapa karya bahkan terasa resonan dengan isu sosial yang lebih luas—misalnya pembacaan ulang tradisi seksual atau gender dalam bentuk visual, komentar mengenai dinamika urban atau perubahan budaya, serta refleksi personal atas pengalaman kehidupan mahasiswa dalam masyarakat modern.


Ruang Publik dan Akses Seni untuk Semua

Salah satu nilai penting dari Ilia Mudiak adalah aksesnya yang terbuka dan gratis untuk umum. Pameran ini tidak hanya ditujukan bagi kalangan kampus atau komunitas akademik, tetapi juga mengundang masyarakat umum, pegiat seni, pencinta seni rupa, dan siapa saja yang ingin terlibat dalam diskusi visual. Kata Sumbar

Keputusan untuk menjadikan pameran ini terbuka untuk publik sekaligus memperluas jangkauan apresiasi seni dan menghubungkan kampus dengan masyarakat. Ini menjadi langkah strategis dalam menjembatani seni akademik dengan realitas sosial yang lebih luas — sebuah upaya yang sering kali menjadi tantangan besar bagi institusi pendidikan seni di Indonesia.


Ilia Mudiak sebagai Model Pendidikan Seni Rupa

Dalam konteks pendidikan seni rupa, Ilia Mudiak menawarkan sebuah model yang patut diperhatikan. Pameran ini tidak hanya bertindak sebagai ruang tampilan karya, tetapi juga arena pembelajaran kolaboratif, pertukaran gagasan, dan refleksi kritis. Bagi mahasiswa, ini adalah pengalaman praktis berharga yang melampaui buku atau ruang kelas.

Keterlibatan alumni juga memperkaya pengalaman belajar bagi mahasiswa, karena mereka mendapatkan perspektif lanjutan dari mereka yang telah menjalani dunia seni di luar kampus. Interaksi lintas generasi ini memberi nuansa baru: seni tidak hanya dipelajari, tetapi dihidupi dalam relasi sosial dan profesional yang nyata. Rakyat TerkinI


Seni Rupa Kampus dalam Lanskap Kebudayaan Indonesia

Ilia Mudiak juga menegaskan bahwa seni rupa kampus turut memainkan peran penting dalam lanskap kebudayaan Sumatera Barat dan Indonesia. Dengan menghadirkan pameran yang kritis, reflektif, dan terbuka untuk publik, mahasiswa dan dosen UNP turut memperluas ruang apresiasi seni rupa lokal — sekaligus menunjukkan bahwa produksi seni akademik bisa relevan secara budaya dan sosial.

Pameran ini bukan hanya dokumentasi visual belaka; ia merupakan rekaman proses pemikiran kreatif di kampus, yang bisa menjadi referensi dan inspirasi bagi praktisi seni, kurator, akademisi, dan penikmat seni di luar lingkungan akademik. Rakyat TerkinI


Refleksi Akhir: Seni sebagai Ruang Interaksi dan Negosiasi

Pameran “Ilia Mudiak” di Galeri FBS UNP bukan sekadar seremonial akhir semester. Ia adalah manifestasi gagasan seni yang bergerak, bernegosiasi, dan beradaptasi dengan konteks pendidikan, tradisi, serta realitas sosial kontemporer. Pameran ini menunjukkan bahwa seni akademik bukan ruang tertutup yang eksklusif, tetapi ruang pertukaran gagasan yang membuka dialog antara masa lalu dan masa kini, antara tradisi dan eksperimen, serta antara lokal dan global.

Dalam dunia seni yang terus berubah, Ilia Mudiak membuktikan bahwa mahasiswa bukan hanya penerima pengetahuan, tetapi juga produsen wacana visual yang mampu membuka ruang baru bagi pembacaan dan pemaknaan seni di abad ke-21. Rakyat TerkinI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link