Instalasi Seni Unik: UTOPIA oleh Trackie McLeod

Instalasi Seni Unik: UTOPIA oleh Trackie McLeod

Written by:

Di tengah dunia seni kontemporer yang kerap terasa eksklusif, steril, dan berjarak dari kehidupan sehari-hari, sebuah instalasi di Manchester justru bergerak ke arah sebaliknya. UTOPIA, karya seniman Inggris Trackie McLeod, hadir bukan sebagai ruang putih yang sunyi, melainkan sebagai pub yang benar-benar berfungsi. Ada minuman, dart, musik, obrolan keras, tawa, bahkan pertunjukan drag dan DJ. Tidak ada batas tegas antara pengunjung dan karya. Semua orang yang masuk otomatis menjadi bagian dari instalasi itu sendiri.

Berlokasi di Factory International – Aviva Studios, UTOPIA menjadi salah satu peristiwa seni paling dibicarakan tahun ini. Bukan hanya karena bentuknya yang tidak lazim, tetapi karena keberaniannya mempertanyakan ulang fungsi seni, posisi seniman, dan siapa sebenarnya yang berhak merasa “pantas” berada di ruang budaya.


Dari Galeri Elitis ke Pub Komunitas

Trackie McLeod dikenal sebagai seniman yang konsisten mengangkat isu kelas pekerja, identitas, dan kehidupan urban Inggris. Namun lewat UTOPIA, pendekatan itu mencapai level yang lebih radikal. Alih-alih mengundang komunitas masuk ke galeri, McLeod membawa galeri ke ruang sosial paling akrab bagi kelas pekerja Inggris: pub.

Pub dalam UTOPIA bukan properti simbolik. Ia benar-benar berfungsi. Pengunjung bisa memesan minuman, bermain dart, duduk berjam-jam tanpa merasa “salah tempat”. Dalam konteks ini, seni tidak lagi menuntut pemahaman teori atau latar belakang akademik. Ia hadir sebagai pengalaman kolektif yang cair, spontan, dan penuh interaksi.

Bagi banyak pengunjung, ini adalah pertama kalinya mereka berada di sebuah “pameran seni” tanpa merasa harus berbisik, menjaga jarak, atau berpura-pura paham.


Mengaburkan Batas: Siapa Penonton, Siapa Karya?

Salah satu gagasan paling kuat dalam UTOPIA adalah penghapusan batas antara penonton dan karya. Tidak ada garis aman, tidak ada instruksi formal tentang cara menikmati instalasi. Orang-orang berbincang, berdebat, tertawa, bahkan mabuk ringan di tengah ruang yang secara resmi disebut sebagai karya seni.

Dalam kerangka ini, manusia menjadi medium utama. Percakapan, gestur, konflik kecil, dan kebersamaan adalah bagian dari komposisi artistik. McLeod tidak mengontrol narasi secara ketat. Ia hanya menyediakan struktur, lalu membiarkan dinamika sosial berkembang dengan sendirinya.

Pendekatan ini membuat UTOPIA selalu berubah. Tidak ada dua malam yang sama. Tidak ada pengalaman yang bisa direplikasi sepenuhnya. Seni menjadi peristiwa, bukan objek statis.


Seni, Kelas Sosial, dan Rasa Tidak Punya Tempat

UTOPIA lahir dari kegelisahan yang sangat nyata: rasa terasing kelas pekerja dari institusi seni. Selama bertahun-tahun, galeri dan museum sering dipersepsikan sebagai ruang milik kelas menengah atas. Bahasa yang digunakan, harga tiket, hingga norma perilaku menciptakan jarak yang tidak kasat mata namun sangat terasa.

Trackie McLeod secara terbuka menantang struktur ini. Dengan menjadikan pub sebagai pusat instalasi, ia memilih ruang yang secara historis menjadi tempat berkumpul, bertukar cerita, dan membangun solidaritas komunitas kelas pekerja.

Pesan yang disampaikan sederhana namun tajam: jika seni tidak bisa ditemui di kehidupan sehari-hari, mungkin yang perlu diubah bukan manusianya, tetapi definisi seni itu sendiri.


Performativitas Tanpa Panggung

UTOPIA juga diisi dengan berbagai aktivitas performatif: DJ set, pertunjukan drag, diskusi komunitas, hingga momen spontan yang tidak pernah direncanakan. Namun semua ini tidak diposisikan sebagai “agenda acara” seperti di festival seni konvensional.

Tidak ada panggung yang ditinggikan secara simbolik. Performer dan penonton bercampur. Drag queen bisa berbincang santai dengan pengunjung setelah tampil. DJ set menjadi latar obrolan, bukan pusat perhatian mutlak.

Pendekatan ini menolak hierarki hiburan. Tidak ada figur yang lebih penting dari yang lain. Semua kontribusi dianggap setara dalam membentuk atmosfer kolektif.


Manchester sebagai Konteks yang Tidak Kebetulan

Pemilihan Manchester sebagai lokasi UTOPIA bukan kebetulan. Kota ini memiliki sejarah panjang sebagai pusat industri, gerakan buruh, dan budaya kelas pekerja. Dari musik hingga sepak bola, Manchester selalu menjadi simbol ekspresi akar rumput yang kuat.

Dengan menempatkan UTOPIA di Factory International, McLeod seperti mempertemukan dua dunia: institusi budaya baru yang ambisius dan tradisi komunitas urban yang sudah mengakar. Hasilnya adalah ketegangan yang produktif, di mana seni tidak lagi berada di atas masyarakat, tetapi di dalamnya.


Respon Publik: Antara Antusiasme dan Kebingungan

Sejak dibuka, UTOPIA memicu reaksi yang beragam. Banyak pengunjung merasa pengalaman ini menyegarkan, bahkan membebaskan. Mereka bisa “menikmati seni” tanpa merasa dinilai atau diuji pengetahuannya.

Namun tidak sedikit pula yang merasa bingung. Di mana letak seninya? Apakah ini hanya pub dengan label artistik? Pertanyaan-pertanyaan ini justru menjadi bagian penting dari diskursus yang ingin dibuka McLeod.

UTOPIA tidak berusaha memberi jawaban final. Ia mengajak publik untuk bertanya, berdiskusi, dan mungkin tidak sepakat. Dalam konteks ini, kebingungan bukan kegagalan, melainkan strategi.


Seni sebagai Infrastruktur Sosial

Salah satu pembacaan paling menarik terhadap UTOPIA adalah melihatnya sebagai infrastruktur sosial, bukan sekadar karya estetis. Ia menyediakan ruang aman untuk berkumpul, berbicara, dan merasa diakui. Di tengah meningkatnya isolasi sosial dan fragmentasi komunitas urban, fungsi ini menjadi sangat relevan.

McLeod tidak memposisikan seni sebagai solusi instan. Namun ia menunjukkan bahwa seni bisa berperan sebagai pemicu, sebagai ruang awal bagi hubungan antarmanusia untuk terbentuk kembali.


Relevansi dengan Generasi Muda

Bagi generasi muda, terutama Gen Z, UTOPIA terasa selaras dengan semangat zaman. Generasi ini tumbuh dengan skeptisisme terhadap institusi, keinginan akan keaslian, dan kebutuhan akan ruang yang inklusif.

UTOPIA tidak menawarkan estetika yang “instagramable” dalam arti dangkal. Ia menawarkan pengalaman. Sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya didokumentasikan atau direduksi menjadi konten. Nilainya terletak pada kehadiran fisik dan interaksi nyata.

Dalam dunia yang semakin digital, pendekatan ini terasa seperti perlawanan halus terhadap budaya konsumsi cepat.


Kritik terhadap Romantisasi

Meski banyak dipuji, UTOPIA juga tidak lepas dari kritik. Beberapa pihak mempertanyakan apakah membawa pub ke dalam institusi seni justru berisiko meromantisasi kehidupan kelas pekerja tanpa benar-benar menyentuh akar masalah struktural.

McLeod tidak menyangkal kompleksitas ini. Justru ia mengakui bahwa UTOPIA bukan solusi final. Ia adalah percobaan, sebuah ruang uji untuk melihat kemungkinan lain tentang bagaimana seni bisa hadir dan berfungsi.


UTOPIA sebagai Pertanyaan, Bukan Jawaban

Nama UTOPIA sendiri terasa ironis. Tidak ada gambaran masyarakat sempurna di sini. Yang ada justru realitas dengan segala kekacauan, kebisingan, dan ketidakteraturannya. Namun mungkin di situlah letak utopia versi McLeod: ruang di mana orang bisa hadir apa adanya, tanpa topeng intelektual.

Instalasi ini tidak menawarkan dunia ideal, tetapi momen kebersamaan yang jujur. Sesuatu yang semakin langka, namun sangat dibutuhkan.


Kesimpulan: Ketika Seni Turun ke Meja Pub

UTOPIA oleh Trackie McLeod adalah pengingat bahwa seni tidak harus selalu serius, sunyi, atau sulit diakses untuk menjadi bermakna. Dengan menjadikan pub sebagai medium, McLeod membuka percakapan penting tentang kelas, akses, dan fungsi seni di masyarakat kontemporer.

Ia tidak memaksa publik untuk “mengerti”, tetapi mengajak mereka untuk hadir. Untuk berbagi ruang, waktu, dan cerita. Dalam kesederhanaan itu, UTOPIA justru menawarkan visi seni yang paling radikal: seni sebagai pengalaman hidup bersama.

Di tengah dunia seni yang sering terjebak antara pasar dan prestise, UTOPIA berdiri sebagai pengingat bahwa terkadang, revolusi bisa dimulai dari meja kayu, segelas minuman, dan obrolan yang jujur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link